Dakwah terdiri dari 3 huruf yaitu, dal, ‘ain, wawu yang ketiga huruf tersebut memiliki makna memanggil, mengundang, minta tolong, meminta, memohon, menamakan, menyuruh datang, mendorong, menyebabkan, mendatangkan, mendoakan, menangisi, dan meratapi (Ahmad Warson, 1997: 406)
Menurut Syekh Muhammad al-Khadir Husain, dakwah adalah menyeru manusia kepada kebaikan dan petunjuk serta menyuruh kepada kebajikan dan melarang kemungkaran agar mendapat kebahagiaan dunia akhirat.[1]
Ditinjau dari fakta yang ada, Indonesia merupakan negara dengan berbagai macam suku, kebudayaan, bahasa, etnis, golongan dan lain sebagainya. Maka dapat dimaknai masyarakat di Indonesia merupakan masyarakat multikultural. Berdakwah di dalam masyarakat yang multikultaral saat ini adalah suatu kegiatan yang berupaya untuk menciptakan keharmonisan ditengah-tengah masyarakat yang beragam[2].
Berdasarkan penjabaran diatas, dapat diambil pengertian bahwa dakwah Multikultural atau disebut juga Dakwah Antar Budaya adalah pertukaran pesan yang dilakukan oleh seorang da’I kepada mad’u yang memiliki kebudayaan yang berbeda dalam konsep amar ma’ruf dan nahi munkar.
Ada 5 kajian ruang lingkup dakwah antara budaya, diantaranya :
1. Mengkaji dasar-dasar tentang adanya interaksi simbolik da’I dengan mad’u yang berbeda latar belakang.
2. Menelaah unsur-unsur dakwah.
3. Mengkaji tentang karakteristik-karakteristik manusia.
4. Mengkaji tentang upaya-upaya dakwah yang dilakukan oleh masing-masing etnik.
5. Mengkaji permasalahan yang ditimbulkan oleh pertukaran antar budaya dan solusi yang dapat dilakukan.
Dalam proses berdakwah diperlukan adanya kemampuan berkomunikasi. Tanpa adanya komunikasi yang efektif, dakwah tidak akan berjalan dengan lancar. Dalam hal ini, komunikasi lintas budaya berperan penting dalam proses kegiatan dakwah multikultural. Perlu diketahui komunikasi lintas budaya adalah suatu pertukaran informasi antara dua atau lebih orang yang berbeda kebudayaan. Perbedaan disini, bisa berupa perbedaan jenis kelamin, mata pencaharian, serta sosial ekonomi.
Selain bertujuan untuk menyukseskan kegiatan berdakwah, komunikasi antar budaya juga memiliki tujuan yang beragam diantaranya, supaya dapat saling memahami antar sesama, mengatasi hambatan komunikasi, serta menjadi komunikasi yang efektif.
Di dalam komunikasi antara budaya sering kali ditemukan hambatan yang membuat proses komunikasi terjadi kendala. Adanya uncertainty dan anxiety, dengan masing-masing pengertian, uncertainty merupakan sikap tidak percaya kepada orang lain sedangan anxiety adalah curiga atau berprasangka kepada orang asing yang berbeda kebudayaan. Kemunculan dua hambatan diatas dikarenakan adanya pengaruh psikokultural yang terdiri dari, stereotype; melabelkan orang ke ranah negatif dan prasangka; sikap, emosi, atau perasaan kepada orang lain. Untuk mengatasi hambatan tersebut, diperlukan adanya mindfulness. Dimana kita harus mengubah polah pikir atau cara pandang untuk menerima kebudayaan lain supaya tidak lagi terjadi pertikaikan antar kebudayaan.
Guna meningkatkan efektivitas komunikasi antar budaya, ada beberapa hal yang harus diperhatikan:
1. Menyadari adanya perbedaan ditengah-tengah masyarakat
2. Tidak menilai orang lain berdasarkan darimana ia berasal, melainkan menilai berdasarkan sikap orang tersebut.
3. Menghilangkan sikap stereotype.
4. Mempelajari berbagai jenis kultur kebudaya lain, sehingga terjadilah sikap yang saling menghormati.
Maka, dapat diambil kesimpulan bahwa seorang da’I selain mempelari ayat Al-Quran dan hadis Nabi, da’I juga harus mempelajari komunikasi antar budaya supaya proses dakwahnya di tengah masyarakat multikultural saat ini dapat berjalan dengan efektif.

Sangat menginspirasi
BalasHapuswowww
BalasHapus