A. Komunikasi Verbal dan Non-Verbal dalam Dakwah
Menurut
Paulette J. Thomas, komunikasi verbal adalah penyampaian ide atau gagasan dari
komunikator kepada komunikan dengan menggunakan bahasa lisan dan tulisan. Dalam
praktiknya komunikasi verbal bisa berupa bercerita, berdiskusi, berdebat, atau
juga bisa dengan tulisan, misalnya buku, koran, majalah, dll.
Sedangkan
komunikasi non-verbal ialah komunikasi yang menggunakan bahasa isyarat, bisa
melalui isyarat tangan, mimic wajah dll.
Dakwah sering kali memanfaatkan komunikasi verbal untuk menyampaikan materinya. Biasanya dengan cara berpidato di depan jamaah, berdiskusi, atau dengan metode bercerita. Seseorang yang piawai dalam melakukan komunikasi verbal lazim disebut dengan komunikator efektif. Dalam kaitannya dengan perintah dakwah, secara operasional berarti kegiatan mengajak dan mempengaruhi manusia, dengan lisan, tulisan maupun dengan tingkah laku secara sadar dan terencana, baik individu, kelompok, maupun komunitas tertentu (jama’ah).
Komunikasi dakwah efektif penting supaya timbul pengertian, kesadaran, sikap, penghayatan dan pengalaman beragama sebagaimana yang diharapkan tanpa ada paksaan dan tekanan apa pun. Berdasar teori-teori komunikasi yang ada, seorang komunikator baru disebut efektif jika memiliki beberapa indikator yakni: cradibility, capability, clarity, symphaty dan enthusiasity[1].
1. Credibility
Credibility maksudnya citra diri. Hal ini berkaitan dengan prestasi, spesifikasi keilmuan, kompetensi, nama baik, popularitas, serta dedikasinya terhadap profesi ang ditekuni. Bagi penceramah atau dā’i yang belum banyak dikenal audience, atau karena jam terbang masih terbatas, MC atau moderator perlu membacakan curriculum vitae-nya. Pengenalan ini perlu, karena audience yang dalam bahasa arab dikenal dengan istilah mustami’(pendengar) akan lebih mengenal penceramah sehingga lebih appreciate dan tergerak untuk mendengarkan ceramahnya.
2. Capability
Capability maksudnya memiliki kecakapan mempertahankan pikiran atau pendapat dalam forum pertemuan yang bersifat dialogis atau komunikasi dua arah seperti dalam diskusi atau seminar. Serta memiliki kemampuan mengkoordinasikan dan mengkombinasikan secara tepat komuniksi verbal dan non verbal dalam waktu yang bersamaan. Berdakwah secara lisan hendaklah pandai-pandai memilih ungkapan yang baik, benar, santun dan lemah lembut agar pesan dakwah yang dismapaikannya membekas pada jiwa para audience atau mustami’.
3. Clarity
Clarity dapat dideskripsikan sebagai kejelasan dan ketepatan ucapan. Penerapan komunikasi efektif banyak bertumpu pada clarity. 6 Sebagai komunikator, penceramah atau dā’i dituntut mampu mengkomunikasikan pesan kepada audience atau mustami’. Vokal sebagai media pengungkapan ekspresi merupakan media penyampaian informasi melalui pengucapan. Sampai atau tidaknya penyampaian pesan, banyak ditentukan oleh keterampilan berkomunikasi. Keterampilan tersebut sangat dipengaruhi tingkat kejelasan penyampaian materi atau pesan. Stigma negatif terhadap Islam yang dicitrakan terkadang diakibatkan oleh penceramah atau dā’i karena kurang menguasai komunikasi dakwah efektif. Pada hakikatnya manusia secara simbolik menggunakan bahasa sebagai simbol komunikasi dalam bertukar pikiran, perasaan, dan pengalaman. Selain itu, terwujudnya komunikasi efektif tergantung pada kemampuan manusia dalam menggunakan bahasa sebagai simbol dalam berkomunikasi, sehingga kita bisa mengambil makna dari apa yang kita lafalkan
4. Sympathy
Penampilan simpatik seorang penceramah atau dā’i merupakan buah dari perpaduan serasi antara ketulusan, kesabaran dan kegembiraan. Penceramah atau dā’i yang mampu tampil simpatik akan merasa puas dan memuaskan audience atau mustami’. Materi dakwah disampaikan dengan cara simpatik, sehingga diikuti dan akhirnya dapat dipahami dengan jelas. Sementara penceramah atau dā’i mendapatkan kepuasan bathiniah, karena melihat wajah-wajah yang penuh antusiasme dan puas dengan apa yang didapatkan darinya. Indikator penampilan simpatik seorang penceramah atau dā’i dapat dideteksi melalui intensitas senyum, kontak mata, keramahan sikap, keterbukaan penampilan, serta keceriaan wajah. Bagi penceramah atau dā’i yang memiliki open face, tidak terlalu sulit baginya untuk bersikap simpatik. Tetapi seorang penceramah atau dā’i yang termasuk kategori neutral face memerlukan usaha, dan bagi pemilik close face dituntut kerja keras dalam berlatih. Materi dakwah harus dijabarkan dan dipersonalisasi agar lebih mudah dicerna, dipahami dan diamalkan.
5. Enthusiasity
Orang Indonesia
menyebut istilah di atas dengan antusiasme. Audience atau mustami’cenderung
lebih menyenangi penceramah atau dā’i yang tampil antusias yang tercermin dari
semangat tinggi, gerak lincah, penampilan energik dan menarik, stamina bagus,
wajah berseri-seri. Audience atau mustami’tidak menyukai penceramah atau dā’i
yang tampil tanpa antusiasme. Seoarang penceramah atau dā’i tidak boleh
terlihat loyo, lesu, letih, dan lemas. Apalagi wajahnya melankolis, mengesankan
sendu, sedih, nampak tertekan, tidak berbahagia atau tampil terpaksa. Untuk
dapat tampil antusias atau gairah tinggi, seorang penceramah atau dā’i harus
memiliki fisik sehat serta suasana hati yang gembira. Sulit rasanya
membayangkan seorang penceramah atau dā’i yang sedang tidak enak badan atau
sakit, dapat tampil prima penuh antusiasme. Jangankan dalam keadaan sakit,
dalam keadaan sehat pasca sakit pun seorang penceramah atau dā’i masih
membutuhkan proses adaptasi, sebelum dapat tampil energik penuh antusiasme di
depan audience atau mustami’. Dalam keadaan sehat, penceramah atau dā’i
memiliki peluang tampil antusias, karena tampak fit, segar, tegar, bugar,
lincah, penuh aksi, ringan tubuh, dan luwes. Semua ini dapat memancing
antusiasme audience atau mustami’ untuk mengikuti ceramah. Meskipun demikian
tidak perlu ada sikap yang berlebihan, seperti kesan arogan, sombong dan over
acting. Efektifitas komunikasi verbal sangat ditentukan oleh kelima hal di
atas. Siapapun orangnya, jika menguasai kelima hal tersebut niscaya akan mampu
menjadi penceramah atau dā’i handal yang didengar karena memiliki daya pikat
yang memukau audience atau mustami’. Mampu mengoptimalkan efektifitas
pelaksanaan tugas dakwah bil-lisan.
B. Komunikasi Verbal dan Non-Verbal dalam Komunikasi Lintas Budaya
Komunikasi Verbal yang kaitannya dengan lintas budaya sering terjadi kesalahpahaman yang berujung pada permusuhan hingga perpecahan. Ketika kita berkomunikasi dengan seseorang dari budaya kita sendiri, proses komunikasi akan jauh lebih mudah, karena dalam suatu budaya orang-orang berbagi sejumlah pengalaman serupa. Namun bila komunikasi melibatkan orang-orang berbeda budaya, banyak pengalaman berbeda dan akhirnya proses komunikasi juga menyulitkan.
Supaya tidak terjadi kesalahapaman, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antaranya:
1. kapan orang berbicara
2. apa yang dikatakan
3. hal memperhatikan
4. intonasi
5. gaya kaku dan puitis serta
6. bahasa tidak langsung. Ke enam hal tersebut adalah saat yang tepat bagi seseorang untuk menyampaikan pesan verbal dalam komunikasi antar budaya.
Sedangkan
komunikasi non-verbal dalam komunikasi lintas budaya umumnya berupa sentuhan,
sebagai contohnya di beberapa daerah di Indonesia menganjurkan berjabat tangan
ketika bertemu, namun ada juga yang menggunakan isyarat lain ketika saling
berjumpa. Menurut Heslin, terdapat lima kategori
sentuhan, yang merupakan suatu rentang dari yang sangat impersonal hingga yang
sangat personal. Kategori-kategori tersebut adalah sebagai berikut:
-
Fungsional-profesional. Di
sini sentuhan bersifat “dingin” dan berorientasi-bisnis, misalnya pelayan took
membantu pelanggan memilih pakaian
-
Sosial-sopan.
Perilaku dalam situasi ini membangun dan memperteguh pengharapan, aturan dan
praktik sosial yang berlaku, misalnya berjabatan tangan
-
Persahabatan–kehangatan. Kategori ini meliputi setiap sentuhan yang menandakan
afeksi atau hubungan yang akrab, misalnya dua orang yang saling merangkul
setelah mereka lama berpisah
-
Cinta–keintiman. Kategori ini merujuk pada sentuhan yang menyatakan
keterikatan emosional atau ketertarikan, misalnya mencium pipi orangtua dengan
lembut; orang yang sepenuhnya memeluk orang lain; dua orang yang “bermain kaki”
di bawah meja; orang Eskimo yang saling menggosokkan hidung.
-
Rangsangan seksual. Kategori ini
berkaitan erat dengan kategori sebelumnya, hanya saja motifnya bersifat
seksual. Rangsangan seksual tidak otomatis bermakna cinta atau keintiman.
Secara garis besar
Larry A.Samovar dan Richard E. Porter (1991) membagi pesan-pesan nonverbal
menjadi dua kategori besar yakni,:pertama,ekspresi wajah,kontak mata,bau-bauan dan
parabahasa;kedua,ruang,waktu,dan diam. Kedua kategori tersebut
sangat berberhubungan diperlukan untuk mempelajari komunikasi nonverbal yang
efektif sehingga tidak terjadi kesalahpahaman yang berujung pada perpecahan.
Komentar
Posting Komentar