Langsung ke konten utama

Dakwah dalam Kajian Pola Komunikasi Lintas Budaya


Keberagaman masyarakat di Nusantara nampaknya melahirnya sebutan islam nusantara. Lantas islam nusantara sendiri itu seperti apa?

    Menurut Kiai Afif, yang memandang islam nusantara dalam persperktif fiqih menyebutkan jika sumber islam memang satu dan bersifat illahiyah, namun perlu diperhatikan pula islam terealisasi dalam praktik keseharian. Artinya, islam bukan hanya bersifat illahiyah melainkan juga bersifat insaniyah (duniawi).

    Berdasarkan jurnal Tafsir Atas Islam Nusantara karya Abd Moqsith, Islam Nusantara memiliki tiga kemungkinan makna. Pertama, Islam Nusantara bermakna Islam yang dipahami dan dipraktikkan kemudian terinternalisasi dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Kedua, Islam Nusantara merujuk pada konteks geografis, yaitu Islam yang berada di kawasan Nusantara. Ketiga, Islam Nusantara adalah pengejawantahan ajaran Islam kepada masyarakat Nusantara.

    Penerapan dakwah dalam islam nusantara sudah dilakukan pada jaman walisongo. Dimana dalam dakwahnya tidak meninggalkan unsur-unsur kebudayaan dari Indonesia sendiri. Seperti yang dilakukan oleh beberapa walisongo diantaranya:

- Sunan Kudus membangun mesjid dengan menara menyerupai candi atau pura.

- Memodifikasi konsep “Meru” Hindu-Budha, Sunan Kalijogo membangun ranggon atau atap mesjid dengan tiga susun yang menurut KH Abdurrahman Wahid untuk melambangkan tiga tahap keberagamaan seorang muslim, yaitu iman, islam, dan ihsan. Ini kearifan dan cara ulama dalam memanifeskan Islam sehingga umat Islam tetap bisa ber-Islam tanpa tercerabut dari akar tradisi mereka sendiri.

- Sunan Kalijogo menggunakan Wayang Kulit sebagai media dakwah. Ia memasukkan kalimat syahadat dalam dunia pewayangan. Doa-doa, mantera-mantera, jampi-jampi yang biasanya berbahasa Jawa ditutupnya dengan bacaan dua kalimat syahadat. Dengan cara ini, kalimat syahadat menjelma di hampir semua mantera-mantera yang populer di masyarakat.

    Dalam praktiknya di jaman sekarang, dakwah yang muncul di tengah masyarakat islam nusantara juga mendapatkan polemik, dimana dalam islam tidak perlu terjadi pelabelan. Islam tetaplah islam tanpa perlu ditambahi sebutan apapun. Namun ada beberapa tokoh menyangkal hal tersebut. Seperti contohnya Oman, ia menjelaskan jika Islam Nusantara itu adalah Islam Nusantara yang empirik dan distingtif sebagai hasil interaksi, kontekstualisasi, indigenisasi, penerjemahan, vernakularisasi Islam universal dengan realitas sosial, budaya, dan sastra di Indonesia.

    Pada masyarakat milenial jaman sekarang haruslah bijak dan paham betul mengenai definisi islam nusantara seperti apa. Jangan sampai dakwah yang kita sampaikan berujung membawa kesesatan karena tidak memiliki landasan pemahan yang benar mengenai konsep penggambaran islam nusantara itu sendiri.  Namun sudah ada beberapa contoh penerapan dakwah islam nusantara yang telah menjamur di Indonesia. Seperti dalam sebuah kajian seringkali dijumpai pemain rebana yang mengiringi da’I ketika menyampaikan dakwahnya. Tidak hanya itu, sang da’I juga melantunkan tembang-tembang jawa bermakna islam yang telah dicontohkan walisongo terdahulu.

Maka perlu digaris bawahhi, Berdakwah harus tetap ditegakkan tetapi tidak boleh melupakan dimana ia berpijak.


Komentar