Langsung ke konten utama

UNSUR-UNSUR KOMUNIKASI ANTARBUDAYA DALAM BERDAKWAH

        Berdakwah pada masyarakat multikultural harus memerlukan pengetahuan mengenai teori komunikasi antarbudaya. Komunikasi antarbudaya adalah proses berbagi ide/gagasan yang dilakukan oleh orang-orang dengan latar belakang budaya yang berbeda. Melalui komunikasi ini, seseorang bisa mentransormasikan dan memahami suatu kebudayaan atau identitas. Lalu bagaimana posisi komunikasi antarbudaya dalam dakwah?

        Ketika berdakwah tentunya seorang da’I/penceramah akan menemukan berbagai mad’u/jamaah yang memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda. Di dalam kasus ini sering dijumpai permasalahan mendasar akibat kurangnya pemahaman mengenai cara berkomuniasi antarbudaya. Diantara, kesalahpahaman yang timbul akibat seorang Da’I tidak mengerti adat/istidat dari sebuah daerah, atau melontarkan kalimat-kalimat yang seharusnya tidak diucapkan pada tempat tersebut.

        Setelah memahami pengertian komunikasi antarbudaya dan permasalahan-permasalahan yang terjadi. Kita akan membahas mengenai unsur-unsur komunikasi antarbudaya yang perlu diperhatikan sehingga tidak ada lagi permasalahan diatas. Ada 6 unsur-unsur komunikasi antarbudaya, diantaranya:

1. Komunikator

Komunikator ialah pihak yang mengawali proses pemgiriman pesan terhadap komunikan. Di dalam dakwah komunikator disebut juga sebagai Da’i. Seorang Da’I memegang penuh keberhasilan dakwah.  Apakah dakwah tersebut berjalan efektif atau sebaliknya itu bergantung bagaimana seorang Da’I menyampaikan pesan dakwah dengan metode yang sesuai sehingga pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik.

Ada beberapa kriteria da’I yang menunjang keberhasilan dakwah, diantaranya:

Memiliki Kompetensi Keilmuan

- Beriman dan bertakwah kepada Allah

- Memiliki akhlak yang baik

2.  Komunikan

Komunikan merupakan penerima pesan yang disampaikan oleh komunikator pada komunikasi antarbudaya. Dalam dakwah komunikan disebut juga mad’u. Tantangan yang harus dihadapi seorang Da’I ketika berdakwah pada masyarakat multikultural ialah perbedaan latar belakang kebudayaan ditiap mad’u. Bukan hanya perbedaan latar belakang kebudayaan, melainkan ada pula perbedaan dalam penerima pesan yang disampaikan komunikator, diantaranya: perbedaan koniktif, perbedaan afeksi, dan dan perbedaan overaction.

Perbedaan kognitif menurut Belch ialah beragam pemikiran yang terjadi pada komunikan ketika membaca, melihat atau mendengar pesan-pesan komunikasi. Pemikiran ini akan mempengaruhi reaksi yang akan diberikan oleh seorang komunikan kepada komunikator. Sedangkan perbedaan afeksi ialah proses penerimaan pesan komunikasi yang melibatkan perasaan emosional sehingga sang komunikan seakan-akan merasakannya. Dan yang terakhir perbedaan overaction ialah respon berlebihan yang ditunjukkan oleh seorang komunikan.

3. Pesan/simbol

Pesan ialah gagasan/pikiran/perasaan yang berbentuk simbol yang diungkapkan oleh seorang komunikator. Pesan dakwah yang disampaikan seorang da’I dapat mempengaruh tingkah laku bahkan keimanan seseorang. Oleh karena itu, pesannya harus berdasarkan al-Quran dan hadits Nabi supaya tidak terjadi kekeliruan dalam menyampaikan pesan.

4. Media

Media ialah tempat atau saluran yang dilalui oleh pesan atau simbol yang dikirim melalui media tertulis, media massa, dan media elektronik. Dalam pemaparannya, saluran dibagai menjadi dua, antaralain:

Saluran sensoris cahaya, bunyi, perabaan, pembaua dan rasa

- Percakapan tatap muka, material cetakan dan media elektronik

Pada prosesnya, dakwah tidak hanya dilakukan pada mimbar-mibar masjid namun memanfaatkan kemajuan jaman dakwah kini berkembangkan diberbagai media. Misalnya, media percetakan yang memuat artikel bacaan islami pada sebuah koran/majalah hingga media elektronik yang meliputi pengajian di stasiun televisi, radio, hingga sosial media. Yang akhir-akhir ini dakwah sudah merambah pada jejaring youtube. Banyak sekali para penda’I baik muda hingga tua berlomba-lomba menghasilkan sebuah karya dakwah dengan sekreatif mungkin namun perlu diingat pesan dakwahnya juga harus tersampaikan secara maksimal kepada mad’u.

5. Efek/Umpan Balik

Efek/umpan balik ialah tanggapan balik dari komunikan kepada komunikator atas pesan-pesan yang disampaikan. Dalam berdakwah umpan balik tidak dapat terjadi secara langsung, melaikan bertahap sesuai dengan pemahaman tiap individu. Dakwah yang efektif terjadi ketika si mad’u dapat menerapkan atau memberikan respon fisik berupa perubahan tingkah laku sesuai pesan yang telah disampaikan oleh sang da’i.

6. Gangguan

Gangguan ialah segala sesuatu yang menjadi hambatan keberlangsungan komunikasi bahkan dapat mengurangi makna pesan itu sendiri. Gangguan dapat bersumber dari komunikator, komunikan, pesan bahkan media yang digunakan ketika berkomunikasi. Dalam komunikasi antarbudaya gangguan yang biasa terjadi ialah ketika sebuah daerah enggan menerima bahkan menolak sebuah kebudayaan/keyakinan dari daerah lain. Hal ini disebut dengan etnosentrisme, dimana seseorang mempunyai kepercayaan bahwa budayanya jauh lebih baik dari budaya yang lain. Sifat ini dapat menghalangi seseorang dalam menjalin komunikasi dengan budaya lain. Bagi seorang da’I hal ini merupakan tantangan tersendiri dalam berdakwah.

Diatas merupakan unsur-unsur komunikasi antarbudaya guna menyukseskan keberhasilan dakwah. 

Komentar