Langsung ke konten utama

HAMBATAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA DALAM DAKWAH MULTIKULTURAL MODERN

 


HAMBATAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA

Dakwah dalam menjalankan fungsinya sebagai salah satu penerapan dari berkomunikasi tentunya memiliki berbagai hambatan. Terlebih jika dakwah yang dilakukan terdiri dari seseorang yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda, hal ini akan membawa pada perspektif yang berbeda dalam menerima suatu materi dakwah yang disampaikan oleh seorang da’i.

Secara umum hambatan komunikasi lintas budaya sendiri terbagi menjadi 15 hambatan, diantaranya:

1. Entnosentrisme

Etnosentrisme merupakan sikap keyakinan atau kepercayaan bahwa budaya sendiri lebih unggul dari budaya lain. Bahkan cenderung memandang rendah budaya lain, dan tidak mau mengakui keunikan budaya lain sebagai suatu ciri khas dari kelompok lain. Entnosentrisme memandang dan mengukur budaya lain berdasarkan budaya sendiri, dan jika tidak sejalan maka dianggap berlawanan dan berbahaya sebab berpotensi mencemari budaya sendiri. Hal ini dapat mengakibatkan adanya pembatasan pergaulan dengan individu yang memiliki budaya yang berbeda.

2. Stereotipe

Stereotipe adalah sikap yang menggeneralisasi atau menyamaratakan sekelompok orang, tanpa mempertimbangkan kepribadian atau keunikan masing-masing individu. Stereotipe mengelompokkan individu berdasarkan keanggotaan individu dalam suatu kelompok dan tidak memandang individu dalam kelompok tersebut sebagai individu yang unik. Karakteristik individual mereka diabaikan, dianggap homogen.

Sikap stereotipe muncul karna dua sebab: 

- Kecenderungan untuk membagi dunia kedalam dua kategori yaitu ‘aku’ dan ‘mereka’. Ketika informasi yang dimiliki mengenai ‘mereka’ kurang, maka timbul kecenderungan untuk mengganggap ‘mereka’ sebagai homogen (disamaratakan).

- Kecenderungan untuk sedikit mungkin melakukan kerja kognitif dalam berpikir tentang orang lain, sehingga menimbulkan persepsi selektif terhadap orang-orang disekitar dan membuat informasi yang kita terima tidak akurat.

Stereotipe bersifat negatif, sikap ini dapat menghambat berjalannya proses komunikasi lintas budaya yang efektif dan harmonis. Contoh sikap stereotipe misalnya anggapan bahwa orang Madura itu kasar dan semacamnya. Dengan stereotipe tersebut, bisa saja timbul permasalahan.

3. Rasialisme

Rasialisme adalah prilaku diskriminatif, tidak adil dan semena-mena terhadap RAS tertentu.  Bukan saja dapat menghambat terjadinya komunikasi lintas budaya, prilaku ini bahkan dapat menimbulkan konflik berkepanjangan. Berbeda dengan sikap rasis, rasialisme merujuk pada gerakan sosial atau politik yang mendukung teori rasisme. Fokus dari rasialisme adalah kebanggaan ras, identitas politik, atau segregasi rasial. Contoh rasialisme misalnya bangsa Jerman yang merasa dirinya lebih unggul dari bangsa lain, semasa Jerman berada di bawah kepemimpinan Hitler. Contoh lain di Indonesia adalah konflik anti-tionghoa yang pernah terjadi sekitar tahun 1998an, dimana terjadi pengusiran besar-besaran dan bahkan pembantaian terhadap ras tionghoa.

4. rasangka

Prasangka adalah persepsi yang keliru terhadap seseorang atau kelompok lain. Konsep prasangka mirip dengan streotipe, bahkan dikatakan bahwa prasangka merupakan kunsekuensi dari adanya streotipe. Menurutt Richard W. Brislin, prasangka merupakan sikap tidak adil, menyimpang, dan intoleran terhadap orang atau kelomopok lain. Prasangka pada umumnya bersifat negatif, adanya prasangka dapat  membuat seseorang memandang rendah dan bahkan memusuhi orang atau kelompok lain.

Hadirnya prasangka berpotensi menghambat komunikasi lintas budaya yang terjadi antara pemilik prasangka dengan orang atau kelompok target prasangka. Sebab belum apa-apa, seseorang telah memiliki pemikiran negatif terhadap lawan bicara. Hal ini akan membuat komunikasi lintas budaya yang dilakukan tidak efektif. Contoh prasangka misalnya prasangka terhadap ras, suku, atau agama tertentu.

Ada tiga tipe prasangka yang muncul:

- Prasangka kognitif: berada pada ranah pemikiran, benar atau

- Prasangka afektif: berada pada ranah perasaan, suka atau tidak suka

- Prasangka konatif: berada pada ranah perbuatan, misalnya deskrimninasi terhadap kelompok yang dianggap berlawanan.

Sebenarnya prasangka pasti selalu muncul dalam pemikiran/ perasaan setiap individu. Setiap orang pasti akan lebih suka berkomunikasi dengan orang-orang yang memiliki kesamaan tertentu dengan dirinya dibanding dengan orang lain yang tidak dikenalnya. Namun perbedaan wujud prasangka tersebut akan menentukan seberapa besar hambatan komunikasi yang terjadi. Ketika hanya sebatas pada pemikiran, mungkin seseorang hanya akan menjauhi kelompok lain pada saat tertentu saja, namun ramah di saat yang lain. Tapi jika wujud prasangka tersebut hingga ranah prilaku ekstrem seperti diskriminasi, akan membatasi peluang dan akses terhadap kelompok lain akibatnya komunikasi akan

5. Jarak Sosial

Jarak sosial berbicara tentang kedekatan antar kelompok secara fisik atau sosial. Jarak sosial berbeda dengan stratifikasi sosial atau pelapisan sosial, jarak sosial mengacu pada perbedaan tingkat peradaban antar kelompok yang satu dengan kelompok lainnya, buka perbedaan kekayaan, kekuasaan, atau ilmu pengetahuan. Pelapisan sosial membagi individu dalam kelompok-kelompok secara hierarkis (vertical). Sedangkan jarak sosial membagi individu individu dalam suatu kelompok secara horizontal, berdasarkan peradaban.

Jarak peradaban ini muncul karena adanya perbedaan kemajuan ilmu pengatahuan dan teknologi. Misalnya jarak sosial antara peradaban modern di kota seperti Jakarta dimana segala hal sudah di digitalisasi secara online dengan peradaban di pedalaman papua yang masih mengandalkan cara manual. Kedua daerah tersebut bisa jadi terpisah jarak 100 tahun, meskipun berada di zaman yang sama.

Adanya jarak sosial ini dapat menghambat terjadinya komunikasi lintas budaya. Seperti misalnya ketika ditempat lain telah bisa melakukan komunikasi secara online yang  lebih cepat dan mudah, maka untuk komunikasi dengan orang di wilayah yang jarak sosialnya sangat jauh, seseorang harus datang dan berbicara tatap muka secara langsung yang tentunya akan memakan waktu lama juga biaya yang mahal.

6. Persepsi

Persepsi merupakan proses yang dilakukan oleh seseorang untuk mencoba mengetahui dan memahami orang lain. Persepsi merupakan filter yang digunakan oleh seseorang ketika berhubungan dengan kebudayaan yang berbeda.  Persepsi negatif dapat berdampak buruk bagi kefektifan komunikasi lintas budaya.

7. Sikap

Sikap merupakan hasil evaluasi dari berbagai aspek terhadap sesuatu. Sikap menimbulkan rasa suka atau tidak suka. Sikap seseorang terhadap budaya lain, menentukan prilakunya terhadap budaya tersebut. Sikap negatif terhadap budaya lain akan menyebabkan komunikasi lintas budaya sulit berhasil.

8. Atribusi

Atribusi merupakan proses identifikasi penyebab prilaku orang lain yang dilakukan oleh seseorang untuk menetapkan posisi dirinya. Kebudayaan lain, akan diidentifikasi berdasarkan kebudayaannya sendiri. Apabila atribut yang dimiliki kebudayaan lain berbeda, maka kebudayaan lain dapat dipandang negatif.

9. Bahasa

Bahasa merupakan sebuah kombinasi dari system simbol dan aturan yang menghasilkan berbagai pesan dengan arti yang tak terbatas. Antara budaya yang satu dengan yang lainnya, bahasa menjadi pembeda yang sangat signifikan. Kata yang sama bisa memiliki arti yang berbeda, kesalahan penggunaan bahasa bisa jadi sangat fatal akibatnya.

10. Paralinguistik

Paralinguistik merupakan gaya pengucapan seseorang, meliputi tinggi rendahnya suara, tempo bicara, atau dialek. Budaya yang berbeda memiliki paralinguistic yang berbeda, misalnya orang solo yang berbicara pelan dan lambat berbeda dengan orang medan yang berbicara dengan lantang dan cepat.

11. Misinterpretation

Misinterpretation atau salah tafsir merupakan kesalahan penfsiran yang umumnya disebabkan oleh persepsi yang tidak akurat. Hal ini bisa disebabkan karena kesalahan persepsi mengenai intonasi suara, mimic wajah, dkk.

12. Motivasi

Motivasi disini berkaitan dengan tingkat motivasi lawan bicara dalam melakukan komunikasi lintas budaya. Motivasi yang rendah akan menjadi hambatan komunikasi lintas budaya.

13. Experiantial

Experiental atau pengalaman hidup tiap individu berbeda, dan hal tersebut akan mempengaruhi persepsi serta cara pandang seseorang terhadap sesuatu.

14. Emotional

Emotional disini berkaitan dengan emosi pelaku komunikasi. Jika emosi komunikan sedang buruk, komunikasi lintas budaya tidak akan dapat berjalan dengan efektif.

15. Competition

Competiton atau kompetisi terjadi ketika komunikan berkomunikasi sembari melakukan kegiatan lain, misalnya sedang menyetir, menelopon, atau lainnya. Hal ini menyebabkan komunikasi lintas budaya tidak akan berjalan secara maksimal.

CARA MENGATASI HAMBATAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA

Dari pemaparan hambatan di atas jika salah satunya terjadi pada kegiatan sebuah dakwah, maka dakwah yang dilaksanakan tidak akan berjalan dengan efektif sebagaimana tujuan dakwah itu sendiri. maka, perlu adanya sikap bijak untuk mengatasi hambatan-hambatan di atas. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi hambatan komunikasi lintas budaya, diantaranya:

1.     Memperbaiki dan meningkatkan kompetensi lintas budaya

Cara mengatasi hambatan komunikasi lintas budaya yang pertama adalah dengan cara memperbaiki dan meningkatkan kompetensi lintas budaya. Kompetensi lintas budaya sendiri di artikan sebagai kemampuan untuk berpartisipasi dalam serangkaian kegiatan komunikasi. Kemampuan ini dapat berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Kompetensi ini didasarkan pada tiga hal yaitu kepekaan atau sensivitas, kemampuan, dan kesadaran. Caranya adalah dengan melatih dan memperdalam pengetahuan lintas budaya, mengikuti pelatihan bahasa, serta mendorong kebijakan yang menguntungkan bersama.

2.     Menghindari asumsi dan penilaian

Cara mengatasi hambatan komunikasi lintas budaya selanjutnya adalah menghindari berbagai asumsi dan penilaian sebisa mungkin. Dalam arti, kita hendaknya tidak mengasumsikan orang lain akan bertindak dengan cara yang sama atau menerapkan nilai-nilai dan keyakinan yang sama atau menggunakan bahasa dan simbol yang sama. Selain itu, hendaknya kita juga menghindari memberikan penilaian tanpa mengetahui atau memahami yang terjadi.

Misalnya, ketika seseorang bertindak secara berbeda, kita jangan buru-buru menyimpulkan bahwa cara yang dilakukan orang tersebut salah atau tidak benar. Biasanya asumsi-asumsi atau penilaian seacam ini timbul akibat berkembangnya sikap etnosetrisme dan stereotip dalam diri yang kerap menjadi hambatan komunikasi lintas budaya.

3.     Peka

Selain menghindari berbagai asumsi dan penilaian terhadap budaya orang lain, cara lain untuk mengatasi hambatan komunikasi lintas budaya adalah dengan mengembangkan sikap peka terhadap perbedaan yang ada. Caranya adalah dengan mempelajari segala sesuatu hal dari orang-orang yang kita temui terutama terkait dengan budaya dan sub-budaya dari orang-orang kita temui sebelum memasuki situasi komunikasi. Untuk itu, ada baiknya kita berusaha untuk meluangkan sedikit waktu untuk mempelajari budaya orang lain daripada memaksakan diri berkomunikasi dengan orang lain dengan latar belakang budaya berbeda namun kita tidak memiliki pemahaman sama sekali tentang budaya lawan bicara. Jika hal ini terjadi, kesalahpahaman pun dapat dengan mudah terjadi.

4.     Mengakui dan menghargai perbedaan

Hambatan komunikasi lintas budaya juga dapat diatasi salah satunya dengan mengakui dan menghargai perbedaan yang ada. Hal ini sangat penting karena pada dasarnya setiap manusia diciptakan secara berbeda-beda. Tidak ada seorangpun yang mampu menolak kapan dan di mana ia dilahirkan, agama yang di anut, latar belakang budaya, dan lain sebagainya. Perbedaan semacam hendaknya dijadikan sebagai alasan untuk terus membina hubungan baik dan bukan menjadikannya sebagai alasan untuk menghakimi orang lain.

5.     Empati

Sebagai alah satu bagian dari kepekaan interpersonal dan kompetensi sosial, empati diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk menyadari dan memahami persepsi dan perasaan orang lain, serta menyampaikan pemahaman tersebut dalam bentuk respon menerima. Dalam konteks budaya, empati diartikan sebagai keinginan untuk menempatkan diri kita dalam dunia budaya orang lain yang berbeda dan untuk mengalami apa yang orang lain alami.

Sikap empati dikembangkan dengan beberapa cara seperti memberikan perhatian, empati komunikatif, atau belajar menerima perbedaan. Mengembangkan sikap empati merupakan cara lain untuk mengatasi hambatan komunikasi lintas budaya karena dengan empati kita dapat belajar untuk menerima dan menghargai perbedaan yang ada.

6.     Mendengarkan secara aktif

Salah satu teknik komunikasi berkesan atau teknik dalam komunikasi yang bijak adalah mendengarkan secara aktif. Mendengarkan secara aktif juga merupakan salah satu kegiatan yang sangat penting dalam komunikasi lintas budaya sekaligus merupakan syarat agar kita dapat mengembangkan sikap empati. Dengan mendengarkan secara aktif, kita dapat memahami dan menghargai perbedaan budaya yang ada sehingga kesalahpahaman pun dapat dikurangi.

7.     Suportif

Cara mengatasi hambatan komunikasi lintas budaya selanjutnya adalah dengan bersikap suportif. Suportif di sini berkaitan dengan perilaku komunikasi yang suportif. Perilaku yang suportif seperti empati dapat mendorong proses komunikasi lintas budaya yang efektif. Sebaliknya, perilaku defensif cenderung membawa proses komunikasi lintas budaya ke arah ketidakefektifan.

8.     Motivasi berkomunikasi

Motivasi berkomunikasi juga merupakan salah satu cara untuk mengatasi hambatan komunikasi lintas budaya. Sebagai manusia, pada umumnya kita sangat termotivasi untuk berinteraksi dengan orang yang dekat secara fisik maupun emosional. Begitupun dalam konteks komunikasi lintas budaya. Motivasi berkomunikasi ini perlu karena merupakan salah satu bentuk upaya untuk memahami pengalaman orang lain yang bukan merupakan bagian dari kehidupan kita. Selain itu, adanya motivasi ini juga dapat memperbaiki kemampuan kita berkomunikasi dengan orang lain, memperlihatkan atau menunjukkan minat kita kepada orang lain, berbicara dan memahami orang lain, serta memberikan bantuan kepada orang lain.

9.     Memahami budaya sendiri

Cara mengatasi hambatan komunikasi komunikasi lintas budaya berikutnya adalah dengan memahami budaya sendiri. Dengan memahami budaya sendiri, kita dapat dengan mudah mengkomunikasikan nilai-nilai, persepsi, dan sikap yang kita anut kepada orang lain. Dampaknya adalah orang lain pun akan dengan mudah mengkomunikasikan nilai-nilai, persepsi, serta sikap yang mereka anut sehingga terciptalah pengertian dan menghindari kesalahpahaman.

10.  Fleksibel

Cara lainnya adalah dengan mengembangkan fleksibilitas dalam berkomunikasi. Para ahli kompetensi komunikasi percaya bahwa salah satu pengertian kompetensi berkomunikasi adalah kemampuan untuk menyesuaikan perilaku komunikasi dengan orang lain dan lingkungan sekitar. Hal ini untuk memudahkan kita berkomunikasi dengan orang lain dan memperoleh informasi yang diinginkan

11.  Menggunakan dan mendorong umpan balik deskriptif

Umpan balik yang efektif dapat mendorong lancarnya proses adaptasi yang merupakan hal penting dalam komunikasi lintas budaya. Setiap orang yang terlibat dalam proses komunikasi lintas budaya seharusnya memiliki kemauan untuk menerima umpan balik dan menunjukkan perilaku suportif. Umpan balik yang diberikan hendaknya bersifat  langsung, segera, jujur, spesifik, dan jelas.

12.  Saluran komunikasi yang terbuka

Cara lain untuk mengatasi hambatan komunikasi lintas budaya adalah dengan membuka saluran komunikasi. Dalam arti, kita harus mampu bersikap sabar selama proses interaksi agar pemahaman bersama dapat tercapai.

13.  Mengelola konflik

Cara mengatasi hambatan komunikasi lintas budaya yang terakhir adalah dengan mengelola konflik yang ada. Konflik yang dimaksud berkaitan dengan benturan nilai-nilai atau keyakinan yang berbeda. Ketika dihadapkan pada situasi ini maka kita harus mampu mengelola perbedaan atau benturan ini dengan baik dan tanpa menyinggung perasaan orang lain.

 

Komentar